Cheeka21’s Weblog


Vitamin C Hambat pertumbuhan Kanker
August 23, 2008, 9:24 am
Filed under: Yang Unik | Tags: ,

SELAIN berfungsi sebagai antioksidan dan melindungi sel-sel dari kerusakan, vitamin C ternyata memiliki potensi besar menghadang pertumbuhan sel-sel kanker atau tumor. Sebuah penelitian awal pada tikus di laboratorium menunjukkan, vitamin C dosis tinggi dapat mengurangi berat tumor dan tingkat pertumbuhannya hingga 50 persen.

Seperti dimuat jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi5 Agustus, peneliti dari US National Institutes of Health (NIH) mengemukakan bahwa suntikan dosis tinggi vitamin C mampu memperlambat pertumbuhan tumor pada tikus pengidap kanker otak, indung telur, dan pankreas.

Dalam risetnya, para ahli melacak pengaruh antikanker yang dimiliki vitamin yang dikenal dengan nama askorbate atau asam askorbat itu terhadap pembentukan hidrogen peroksida dalam cairan extraselular yang mengelilingi tumor. Riset menunjukkan, vitamin C mampu “mengganggu” perkembangan sel-sel kanker, sedangkan sel-sel normal tidak terpengaruh.

Secara alami, kontrol fisiologis akan secara akurat mengatur jumlah askorbat yang diserap tubuh ketika zat itu dikonsumsi secara oral. Untuk melewati kendali normal itu, para ilmuwan NIH menyuntikkan askorbat ke dalam nadi atau rongga perut hewan pengerat pengidap tumor pankreas, indung telur, dan otak agresif.  Dengan melakukan itu, mereka mampu memberikan dosis tinggi askorbat sebanyak 4 gram per kilogram berada badan setiap harinya.

“Pada suntikan dosis tinggi, kami berharap akan melihat kegiatan seperti obat yang mungkin bermanfaat dalam perawatan kanker,” ungkap Mark Levine, penulis  riset tersebut.

Vitamin C memainkan peran penting bagi kesehatan. Kekurangan vitamin ini dalam jangka panjang mengakibatkan penyakit gusi berdarah, bahkan kematian. Vitamin C mungkin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan, melindungi sel dari dampak kerusakan radikal bebas.

Para ahli NIH dalam riset ini ingin menguji pendapat bahwa askorbat ketika disuntikkan dengan dosis tinggi mungkin memiliki aktivitas pro-oksidan ketimbang sebagai antioksidan. Prooksidan akan menggerakkan radikal bebas dan pembentukan hidrogen peroksida yang menurut hipotesa para ilmuwan mungkin dapat membunuh sel-sel tumor.

Dalam percobaan laboratorium pada 43 jalur sel kanker dan 5 sel normal, para peneliti mendapati bahwa askorbat konsentrasi tinggi  memiliki dampak antikanker pada 75 persen jalur sel kanker yang diuji coba. Pada saat yang sama, sel-sel normal tidak ikut terpengaruh oleh vitamin C. Pada laporannya, para peneliti juga mengindikasikan  askorbat dalam konsentrasi tinggit dapat dicapai pada manusia.

Tim  kemudian menguji suntikan askorbat pada tikus yang mengalami penurunan daya tahan tubuh karena tumor otak, pankreas, dan indung telur telah menyebar. Suntikan askorbat  terbukti mampu mengurangi berat dan pertumbuhan tumor hingga 41 sampai 53 persen.

“Data praklinis itu memberi dasar kuat bagi tercapainya askorbat farmakologis dalam pengobatan kanker pada manusia,” demikian kesimpulan para peneliti tersebut.

Sumber:Http://www.kompas.com



Bahagia Membuat Panjang Umur
August 23, 2008, 7:32 am
Filed under: Yang Unik

TETAPLAH senandungkan lagu Don’t Worry Be Happy. Lagu yang tenar di era 1980-an ini ternyata benar adanya. Sebuah penelitian menunjukkan, merasakan kebahagiaan membuat hidup bakal lebih awet dan lama.

“Kebahagiaan tidak menyembuhkan, tetapi melindungi kita dari penyakit,” ujar Ruut Veenhoven dari Universitas Erasmus di Rotterdam dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan bulan depan.

Setelah  meninjau kembali 3 penelitian yang telah dilakukan di berbagai belahan dunia selama periode hingga 30 tahun, profesor asal Belanda ini mengatakan bahwa efek bahagia pada panjang umur itu sama dengan kalau kita membandingkan antara orang yang merokok dan yang tidak merokok.

Merasa bahagia, katanya, dapat memperpanjang usia 7,5 hingga 10 tahun.
Temuan ini membawa pada sebuah pertanyaan baru yang cukup sulit dijawab, yakni soal penyebab bahagia. Apa yang bisa membuat seseorang bahagia?

Dan terkait dengan pertanyaan ini perlu kita cermati gejala yang menarik di negara-negara maju. Materi begitu diupayakan sedemikian rupa. Namun setelah dicapai, di tempat ini, kelebihan materi atau kelimpahan rezeki ternyata dianggap sebagai sesuatu yang tak lagi memuaskan hidup mereka.

Pertanyaan atas kebahagian muncul, dianalisis, dan menjadi pertanyaan yang serius untuk dicari tahu. Beberapa mengungkapkan jawaban yang kemudian jatuh pada keadaan yang disebut hedonis (mengutamakan kenikmatan materi, fisik).

“Ide bahwa ada situasi yang disebut bahagia dan kita dapat menjelaskan ciri-ciri mengenai rasa dan bagaimana mengukurnya, jelas-jelas merupakan ide subversif,” ungkap Bill McKibben dalam bukunya Deep Economy: The Wealth of Communities and the Durable Future, 2007.

Ini akan membuat para pemuja ekonomi berpikir untuk meningkatkan kekayaan. Padahal, bertambahnya materi, kekayaan, hanya menyumbang sedikit bagi munculnya kebahagiaan seseorang. Demikian hasil riset itu.

Namun, kebahagiaan dapat muncul akibat suasana persahabatan yang hangat dan menyenangkan, juga karena faktor-faktor sosial seperti kemerdekaan, demokrasi, pemerintahan yang efektif, dan aturan hukum yang ditegakkan.

Dalam temuan Veenhoven, yang dipublikasikan di Journal of Happiness Studies, sebuah media ilmiah yang didirikan tahun 2000, bukti bahwa rasa bahagia sangat berpengaruh atas kehidupan seseorang ditemukan pada sekelompok biarawati di Amerika Serikat. Mungkin karena mereka didukung oleh komunitas yang saling mendukung, kedekatan antarpribadi dan kesatuan hati dan budi yang terjadi di antara mereka.

Lirik lagu dari pemenang Grammy 1989 Be Happy terinspirasi dari guru terkenal dari India, Meher Baba. Saat ini, di lebih dari 100 negara, dari Butan di Pegunungan Himalaya hingga Amerika Serikat dan Australia, para ahli ekonomi berupaya membuat indikator “kebahagiaan” (satu bentuk indeks kualitas hidup yang baru) ke dalam ukuran pertumbuhan.

Kebahagiaan, menurut para spesialis, yang diterima oleh masyarakat umum diartikan sebagai “penghargaan atas hidup seseorang sebagai manusia utuh”.

Dalam tulisan ini, Veenhoven pertama-tama mencermati statistik untuk melihat apakah kegembiraan membawa pengaruh bagi orang yang sakit. Yang ditemui justru kebahagiaan memang membantu mengurangi derita yang dialami pasien kanker. Namun, secara umum kebahagiaan tidak akan memperpanjang hidup mereka.

Di antara warga masyarakat yang sehat, sebaliknya, kebahagiaan terbukti melindungi mereka dari sakit. Ini berarti memperlama hidup mereka.

Orang yang bahagia lebih mudah waspada akan berat badannya, lebih mengerti dan memahami gejala-gejala penyakit yang mungkin timbul di dalam dirinya, cenderung lebih moderat bila mereka perokok dan peminum, dan secara keseluruhan hidup mereka lebih sehat. Mereka juga lebih aktif, lebih terbuka terhadap dunia, lebih percaya diri, membantu membuat keputusan yang tepat, dan membangun jaringan sosial yang kuat.

Selama ini kita tahu bahwa rasa bahagia akan membuat fisik kita menjadi sehat, tapi kita tidak tahu persisnya bagaimana. Kesedihan atau rasa kurang bahagia kronis mengaktifkan respons bertempur dalam diri kita. Artinya, kondisi ini bakal mengancam diri sendiri karena jangka lama bakal membuat kita sendiri hipertensi dan respons kekebalan tubuh menurun“, tulisnya

Untuk meningkatkan rasa gembira perlu ada riset tambahan atas efek-efek kondisi tempat tinggal, sekolah, atau lingkungan yang mengelilingi hidup kita dalam waktu lama. Apakah semua itu membuat kita bahagia?

Bahkan, penelitian atas kepuasan kerja dan tempat kerja pun memengaruhi kebahagiaan seseorang. Karena itu, pemerintah perlu mengajari atau setidaknya memberikan suasana yang nyaman pada rakyatnya untuk bisa hidup nyaman sehingga semua orang bisa menikmati hidup dan mendapatkan makna yang berarti dalam hidupnya.

“Jika kita merasa tidak sehat, kita akan pergi ke dokter umum,” katanya. “Jika kita merasa tidak bahagia, tak ada ahli dalam hal itu. Kita harus mengupayakan sendiri. Petunjuk profesional bagaimana caranya agar bisa hidup bahagia sampai sekarang belum ada,” tuturnya. Ini jelas merupakan pertanda nyata kegagalan pasar dan ekonomi. Pada akhirnya, tanpa hal ini pun banyak orang merasa lebih bahagia.

Sumber: http://www.kompas.com